1) Kurikulum;
Sebagai salah satu entitas lembagapendidikan yang paling tua, pada
awalnya model pendidikan pesantren salafiyah tidak mengenal kurikulum dalam pengertian seperti kurikulum dalam pendidikan formal. Kurikulum pada pesantren salafiyah lebih sering disebut sebagai al-manhajad-dir?si
yang dapat diartikan sebagai arah atau metode pembelajaran tertentu. Manhaj yangada pada pesantren salafiyah ini tidak dalam bentuk jabaran silabus, akan tetapi berupa funun kitab-kitab yang diajarkan pada
para santri.
Munculnya kategorisasi Satuan Pendidikan Muadalah Salafiyah(SPM Salafiyah) itu sendiri merupakan salah satu arah baru kemajuan model pendidikan yang ada di pesantren.
Muadalah secara harfiah berarti penyetaraan yang juga merupakan bentuk pengakuan(recognition) dari pemerintah terhadap keberadaan pesantren
secara umum. Bentuk pengakuan pemerintah pada awalnya adalah memberikan dorongan dari berbagai segi implementasi penyetaraan
pesantren tersebut dengan pendidikanformal pada umumnya, seperti pemberian standar kompetensi lulusan, standarisi, pengelolaan dan yang lain, bahkan pengakuan akan eksistensi ijazah yang dikeluarkan pesantrenter sebut.
Sesuai dengan Peraturan Menteri Agama Nomor 31 Tahun 2020 pada pasal 12, 13, 14 dan 15, menjelaskan bahwa Kurikulum
Pendidikan Muadalah khususnya Satuan Pendidikan Muadalah Salafiyah terdiri dari Kurikulum Pesantren yang berbasis kitab kuning
dan Kurikulum Pendidikan Umum. Sedangkan pengembangan Kurikulum pesantren
yang dilaksanakan oleh
Pesantren itu sendiri disusun berdasarkan dan berpedoman kepada Kerangka Dasar
dan Struktur Kurikulum
Kerangka Dasar dan Struktur Kurikulum
pada SPM Salafiyah Dalam rumusan Majlis Masyayikh adalah kerangka konseptual kurikulum
yang dipakai sebagai pedoman dalam pengembangan kurikulum tingkat nasional, pengembangan muatan
lokal pada tingkat daerah, dan pedoman dalam pengembangan kurikulum tingkat satuan
pendidikan, mulai jenjang Ula, Wustho, hingga Ulya. Di samping itu Struktur
Kurikulum pada SPM Salafiyah
adalah pengorganisasian aspek capaian pembelajaran, capaian pembelajaran mata pelajaran, struktur kurikulum, dan beban
belajar pada setiap jenjang pendidikan.
Adapun struktur isi kurikulum memuat beberapa aspek
penting sesuai dengan kebutuhan
tiap jenjang pada SPM Salafiyah antara lain(1) memuatmata pelajaran agama, umum, dan
muatan lokal serta alokasi waktunya pada setiap materi; (2) mampu menunjang
pengembangan diri santri yangtafaqquh
fiddindan berakhlak mulia; dan (3) memiliki referensi umum dan khusus sesuai
dengan karakteristik SPM Salafiyah yang fokus pada kajian kitab kuning.
Berdasarkan pada aspek-aspek penting
yang ada pada SPM Salafiyah, maka muatan kurikulumnya mencakup pelajaran agama, materiumum,
dan muatan lokal. Adapun cakupan muatan pelajaran kurikulum pendidikan SPM Salafiyah yang
akan dilaksanakan oleh Ponpes Amirul Mukminin dalam proposal pengajuan ini adalah sebagai berikut:
Adapun struktur isi kurikulum memuat beberapa aspek
penting
Tabel 1. Rumpun
Keilmuan/Materi Pelajaran pada SPM Salafiyah Wustha
|
No |
RumpunKeilmuan/MataPelajaran |
BebanJamPelajaran Perkelas/Perminggu |
|
|
A. |
KeagamaanIslam |
24JP |
|
|
|
1. |
Al-Quran |
4JP |
|
|
|
a. Al-Quran |
|
|
|
|
b. Tafsir |
|
|
|
2. |
Hadits |
2JP |
|
|
3. |
Fiqih |
6JP |
|
|
|
a. Fiqih |
2 |
|
|
|
b. UshulFiqh |
2 |
|
|
|
c. Faraidh |
2 |
|
|
4. |
Akhlaq |
2JP |
|
|
5. |
BahasaArab |
6JP |
|
|
|
a. Nahwu |
|
|
|
|
b. Sharf |
|
|
|
|
c. I�rab |
|
|
|
|
d. I�lal |
|
|
|
6. |
Tarikh |
2JP |
|
|
7. |
Tauhid |
2JP |
|
B. |
PendidikanUmum |
8JP |
|
|
|
8. |
Pendidikan Kewarganegaraan |
2JP |
|
|
9. |
Bahasa Indonesia |
2JP |
|
|
10. |
Matematika |
2JP |
|
|
11. |
IPS/IPA |
2JP |
|
C. |
MuatanLokal |
4JP |
|
|
|
12. |
MuatanLokal1 |
2JP |
|
|
13. |
MuatanLokal2 |
1JP |
|
|
14. |
MuatanLokal3 |
1JP |
|
Jumlah Beban Jam Pelajaran(JP) untukSPM Salafiyah Wustha Perminggu |
36JP |
||
Rincian alokasi beban jam pelajaran untuk setiap muatan mata pelajaran
kurikulum pesantren dan kurikulum pendidikan umum sesuai perkelas dalam perminggu dengan referensi kitab-kitab kuning (turats)
dan buku rujukan lainnya, kami lampirkan secara terperinci pada lampiran
permohonan ini.
Sejatinya pada Pesantren Salafiyah, dalam
pembelajaran yang diberikan kepada santri, pesantren/Amirul
Mukminin menggunakan
metode belajar
kepada jenis-jenis kitab tertentu dalam cabang ilmu tertentu. Kitab�kitab
tersebut dipelajari secara tuntas sebelum naik jenjang ke kitab lain yang lebih
tinggi tingkat kesulitannya. Dengan demikian, masa penyelesaian (tamat) program pembelajaran
tidak diukur dengan satuan waktu, juga tidak didasar kan pada penguasaan terhadap topik-topik bahasan tertentu, tetapi didasarkan
pada tamat atau tuntasnya santri mempelajari kitab yang telah ditetapkan.
Kompetensi standar bagi tamatan pesantren adalah kemampuan dalam memahami, menghayati, mengamalkan, dan mengajarkan isi
kitab tertentu yang telah ditetapkan.
Metode pembelajaran di Pesantren Amirul Mukminin bersifat tradisional, yaitu pembelajaran yang
diselenggarakan menurut kebiasaan yang telah lama dilaksanakan di pesantren
atau dapat juga disebut sebagai metode pembelajaran asli (original) di pesantren. Di samping itu Pesantren Amirul Mukminin juga diterapkan metode pembelajaran modern (tajdid) metode pembelajaran tajdid merupakan metode pembelajaran hasil pembaharuan kalangan pondok pesantren dengan memasukkan metode yang
berkembang pada masyarakat modern, meski tidak selalu diikuti penerapan sistem modern, seperti system sekolah atau madrasah. Metode pembelajaran tradisional yang masih diterapkan adalah:
1) Metode Sorongan. Katasorongan
berasal dari kata Sorong dari bahasa Jawa yang berarti menyodorkan Kitabnya
dihadapan guru. Metode sorongan ini termasuk belajar individual, karena seorang
santri berhadapan dengan seorang guru dan terjadi interaksi langsung saling
mengenal diantara keduanya.
2) Metode Bandongan. Metode ini dilaksanakan saat guru membaca kitab kuning tertentu, sedangkan santri memberikan makna kitab nya tentang materi yang sedang dibacakan guru.
3) Metode Wetonan, istilah weton berasal dari bahasa Jawa yang artinya waktu, sebab pengajian tersebut
diberikan pada waktu tertentu, yaitu sebelum atau sesudah melakukan salat fardu atau pada
hari-hari tertentu. Metode weton ini merupakan metode kuliah karena para santri
mengikuti pelajaran dengan duduk di sekeliling guru yang menerangkan pelajaran
ala kuliah, santri menyimak kitab masing- masingdan membuatcatatan padanya.
4) Metode Musyawarah atauBahtsul
Masa'il. Metode ini merupakan metode pembelajaran yang mirip dengan diskusi
atau seminar. Beberapa orang santri dengan jumlah tertentu membentukhalaqah yang dipimpin langsung oleh
seorang guru senior untuk membahas atau mengkaji persoalan yang telah
ditentukan sebelumnya. Oleh sebab itu, metode ini juga dikenal dengan istilahBahtsul Masa'il. Dalam pelaksanaannya,
para santri dengan bebas mengajukan pertanyaan-pertanyaan atau pendapatnya.
5) Metode Pengajian Pasaran. Metodeini adalah kegiatan para santri melalui pengajian materi (kitab)
tertentu pada guru yang dilakukan terus-menerus selama tenggang waktu tertentu.
Pada umumnya dilakukan di bulan Ramadan selama setengah bulan atau 20 hari.
Bahkan terkadang satu bulan penuh, tergantung jumlah halaman kitab yang dikaji.
Metode ini lebih mirip metode bandongan, yang target utamanya adalah selesainya kitab yang dipelajari.
6) Metode Hafalan. Dalam metodeini, parasantri diberitugas bacaan- bacaan dalam jangka waktu tertentu. Hafalan
yang dimiliki oleh santri ini kemudian dihafalkan di hadapan guru secara periodik
atau insidental, tergantung pada petunjuk guru yang bersangkutan. Materi pembelajaran dengan metode hafalan umumnya berkenaan dengan Alquran, nadzam-nadzam untuk nahwu, Sharaf,
tajwid, ataupun teks-teks.
7) Metode Hafalan. Dalam metodeini, parasantri diberitugas bacaan- bacaan dalam jangka waktu tertentu. Hafalan
yang dimiliki oleh santri ini kemudian dihafalkan di hadapan guru secara periodik
atau insidental, tergantung pada petunjuk guru yang bersangkutan. Materi pembelajaran dengan metode hafalan umumnya berkenaan dengan Alquran, nadzam-nadzam untuk nahwu, Sharaf,
tajwid, ataupun teks-teks.
8) Metode Demonstrasi atau
praktik ibadah, metode ini adalah cara pembelajaran yang dilakukan dengan
memperagakan suatu keterampilan dalam hal pelaksanaan
ibadah tertentu yang dilakukan individu maupunkelompok dibawahpetunjuk
danbimbinganguru, dengan urutan kegiatan sebagai berikut:
a) Parasantrimen dapat kan penjelasan atau teori tentang tata cara pelaksanaan ibadah yang akan dipraktikkan.
b) Parasantri berdasarkan bimbingan guru mempersiap kan segala peralatan dan perlengkapan yang
diperlukan untuk kegiatan praktik.
c) Setelah menentukan waktu dan tempat para santri berkumpul untuk menerima
penjelasan singkat berkenaan dengan urutan kegiatan yang akan dilakukan serta pembagian
tugas kepada para santri berkenaan dengan pelaksanaan praktik.
d) Para santri secara bergiliran memperagakan pelaksanaan praktik ibadah
tertentu dengan dibimbing dan diarahkan oleh guru sampai benar-benar sesuai
dengan tata cara pelaksanaan ibadah sesungguhnya.
e) Setelah selesai kegiatan praktik ibadah para santri diberi kesempatan
menanyakan hal-hal yang dipandang perlu selama berlangsung kegiatan.
Adapun beberapa karakteristik yang menonjol dalam pelaksanaan kegiatan
belajar mengajar pada SPM Salafiyah adalah sebagai berikut:
1. Penggunaan kitab-kitab berbahasa Arab (kitab kuning) sebagai buku teks
pokok matapelajaran, meliputi Al-Qur�an, Hadis,Akidah, Bahasa Arab, Ilmu Tafsir, Tarikh, Syari�ah yang
terdiri dari Fikih dan Ushul Fikih. Pembelajarankitab kuning di SPM
Salafiyahpada umumnya dilaksanakan dalam bentuk sorogan, wetonan dan bandongan.
Untuk pembelajaran dalam bentuk sorogan, wetonan, dan bandongan biasanya
disebut sebagai kurikulum sistemma�hadi,
artinya jenis kitab, alokasi waktu pembelajaran dan kalender akademiknya
sepenuhnya menjadi otoritas pesantren itu sendiri. Adapun pembelajaran yang
dikemas dalam bentuk klasikal atau sistem madrasisecara
umum sama dengan model-model klasikal lainnya. Pembelajarannya
sudah terjadwal dengan rapi layaknya sekolah formal lainnya.
2. Kegiatan ekstrakurikuler yang dilakukan dalam bentuk perorangan maupun
kelompok. Kegiatan ekstrakurikuler antara lain kegiatan hadrah/marawis,
khitabah, pencak silat, Pramuka, Palang Merah Remaja, patrol keamanan pesantren, Usaha Kesehatan Pesantren, koperasi pesantren, Peringatan Hari-Hari Besar Islam, bakti sosial, sanggar kesenian, Paskibra, mengikuti ceramah umum, berdakwah, dan lain-lain.
3. Pada umumnya penerimaan santri di SPM Salafiyah dilaksanakan padabulan Syawal, meskipun dibeberapa SPM Salafiyah ada yang mengikuti kalender pendidikan sebagaimana
yang ditetapkan oleh Kementerian Agama. SPM Salafiyah mempunyai mekanisme dan
prosedur sendiri-sendiri dalam menerima santri baru. Secaraumum persyaratanak ademik yang
harus dipenuhi dalam menempuh jenjang pendidikan di SPM Salafiyah
berdasarkan tingkat kemampuan menguasai materi, meliputi membaca Al-Qur�an,
mata pelajaran Bahasa Arab, dan pengetahuan agama Islam.
© Direktory Papkis. All Rights Reserved. Created by Bidang Papkis Kanwil Kemenag Provinsi Jambi